| Membaca TitikTuju - Membaca Andre Theriqa | Feb 12, 2008 |
“Tampillah sebagai pemenang dalam kehidupan.
Jangan sekali-kali larut dalam delusi fatamorgana.
Sekali hidup penuh arti.
Sekali bekerja bergetar dunia karena prestasi.”
SETIAP diri kita harus tampil sebagai pemikir dan pejuang, kreator dan pendobrak. Tidak ada kata statis dalam kehidupan, sebab statis berarti pengkhianatan yang memalukan. Demikian juga halnya tidak ada kata diam dalam membangun kebenaran, “Silence is worse all thruths that are kept silent become poisnous.” Kata-kata inilah barangkali yang dijadikan motivasi oleh seorang Andre Theriqa dalam menumpahkan kreativitasnya.
Tulisan Andre Theriqa lebih mencerminkan sebuah ‘gumam’ atau lebih bersifat reflektif, sebuah lontaran nurani yang datangnya sangat impulsif. Hatinya gelisah bila melihat kemungkaran. Selalu haus ingin menebar marhamah kasih sayang. Jiwanya meronta untuk tampil dalam prestasi yang utuh. Dia keras dalam prinsip, tetapi bijaksana dan lembut dalam penyampaian.
Setelah membaca tulisannya, kita akan mendapatkan butir-butir hikmah yang mendalam serta akan mampu menghayati, memahami dan menemukan jawabannya sesuai dengan yang diharapkan oleh sang penulis, mencapai TitikTuju.
H. DIDI ADIWIJAYA, Tokoh Masyarakat Banten
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TITIKTUJU, bukanlah ‘titik tujuh’. Bukan pula titik yang bertujuan. Apalagi titik yang berjumlah tujuh dan bertujuan. Bukan. TitikTuju adalah suatu proses. Proses menuju ‘akhir’ yang tidak bisa ditentukan kapan akan berakhir, oleh siapapun yang bisa berakhir. Itulah yang hendak penulis buku ini sampaikan kepada pembacanya, yang sudi meluangkan waktu untuk mengembara dalam perenungan, sebuah kontemplasi yang bermakna, bernas, dan memiliki sisi humanisme yang kuat. Walaupun sudah pernah dipublikasikan secara berkala di Media Tangerang, namun penerbitan menjadi satu buku ini masih memiliki daya tarik untuk dibaca, ditelaah, dimaknai dan dinikmati bukan sekadar untuk meluangkan waktu belaka.
Melalui TitikTuju, pembaca seakan diajak untuk menjelajahi perenungan seorang anak manusia, Andre Theriqa, dengan tetap menginjak bumi, dengan hati nurani, dengan cinta, dengan kasih sayang dan dengan tetap memanusiakan “manusia”. Tulisan dalam TitikTuju, adalah kumpulan tulisan yang dibuat seketika –ketika sang penulis merasakan getaran khusus, terinspirasi untuk menuangkan dalam tulisan beberapa waktu silam. Kesadaran untuk berbagi pengalaman dari sang penulis inilah, hingga merasa perlu untuk mengumpulkan kembali tulisan-tulisan yang berserakan, mengedit dan membukukannya, untuk pembaca yang budiman. Buku yang ada di tangan pembaca ini, adalah cetakan kedua, setelah cetakan pertamanya habis dibagi-bagikan kepada handai taulan. Ternyata, tuntutan untuk mencetak yang kedua, tidak mampu ditolak oleh penulis, yang memang tidak pernah bisa menolak permintaan orang. Apalagi permintaan untuk berbagi sebuah pengalaman, perenungan untuk nilai-nilai kemanusiaan.
Beberapa tulisan dalam TitikTuju, sengaja didedikasikan untuk beberapa tokoh, --yang dikenal dan mengenal—Andre Theriqa, sang penulis. Penulis tampak terkesan dengan peristiwa-peristiwa yang dialami bersama sang tokoh, walau sederhana dan singkat saat peristiwa itu terjadi, tapi bagi Andre Theriqa peristiwa itu memiliki sisi-sisi humanisme yang dalam dari sang tokoh. Hal ini tampak dalam tulisan bertajuk “Adeng”, “EMC dari Bunda”, “DRH” dan sebagainya. Hingga pembaca, akan larut bersama dengan bayangan tokoh yang juga dikenal oleh pembaca di Tangerang. Sebuah ‘kota’ yang tengah ditarik oleh modernisasi untuk memisahkan sisi “kemanusiaan” dari manusia penghuninya.
Memang ada beberapa tulisan dalam TitikTuju, ketika diedit kembali beberapa waktu kemudian (enam angka di belakang tulisan), sudah kehilangan ‘momentum’-nya, jika dibandingkan dengan suasana batin ketika tulisan itu dibuat, sesaat setelah peristiwa itu dialami. Terasa ‘kering’, ketika penulis mengeditnya lagi untuk dinikmati sekarang, saat peristiwa itu sendiri sudah lampau. Hal ini bisa dirasakan dalam tulisan yang berjudul “BBBM”, “Jalasveva Jayamahe” dan sebagainya. Namun, itu tidak mengurangi kenikmatan menjelajah dunia nilai-nilai kemanusiaan yang ditawarkan oleh penulisnya dalam TitikTuju.
Terakhir, jika pembaca jeli menelusuri TitikTuju hingga akhir, tentu akan mafhum, dengan situasi batin penulisnya. Bahkan pembaca dapat ikut merasakan ‘sakit’ imsomnia yang tidak dirasakan oleh penulis, bisa tahu hobi penulis yang suka mbaca buku Asmaraman S Kho Ping Hoo semasa remaja hingga hafal nama tokoh-tokoh dunia kang-ouw, seorang Andre Theriqa, yang rela begadang semalaman hanya untuk menonton bola, dan sebagainya. Penulis juga tampaknya sengaja menunjukkan kecintaannya pada lagu-lagu Iwan Fals, musisi yang dikaguminya, hingga bisa ditanyakan, ada berapa lagu Iwan Fals dalam TitikTuju ?
Akhirnya selamat membaca TitikTuju sambil mendendangkan lagu IwanFals. (250206)
IMRON HAMAMI, adalah penggiat sosial yang menjadi motor Pattiro,
sebuah NGO yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan di Tangerang.
================================================================
ANDRE THERIQA adalah seorang lelaki yang memilih berambut gondrong saat berada di lingkungan yang kelimis, dan memangkas pendek rambutnya saat orang-orang di sekitarnya mulai membiarkan rambut mereka panjang.
Biasa di panggil Bang Batman, tidak menjadikannya merasa seperti super-hero. Ia bahkan cenderung lebih kerap merasa super-heran melihat keadaan negeri ini, di mana begitu banyak yang memuja Robin Hood, yang jelas maling tapi dianggap sebagai pahlawan. Begitu banyak orang gontok-gontokan berebut kekuasaan, tapi begitu jadi justru tidak berbuat apa-apa.
Meski pernah menjadi Ketua Fraksi PDI P (P-nya: Pergaulan) dan Ketua Komisi C di DPR Daerah Kabupaten Tangerang, ia tetap saja merasa risih jika melihat banyak tangan yang meminta jatah komisi, terhadap apa saja yang bisa dijadikan proyek.
Ia merasa lebih nyaman menjadi KepalaSuku di SemburatJingga meski ia adalah Ketua I KONI Kabupaten Tangerang, Ketua Umum Yayasan Kesenian Tangerang, Pemimpin Umum / Pemimpin Perusahaan Harian Umum MediaTangerang, Direktur Utama La Venna Sentra Desain, Ketua Dewan Penyantun MataHati, Direktur AdipatiUtama, Direktur Sekolah Catur Ismet Iskandar, Ketua Presidium Front Indonesia Bersatu, Penasehat Benteng Masyarakat Banten, pembina ini, penasehat itu dan entah apa lagi.
Menulis adalah kegemarannya di samping membaca dan membuat sketsa, namun koleksi tulisan, buku dan sketsanya masih jauh di bawah jumlah koleksi sinematografinya. Meski secara faktual ia bisa disebut pengangguran, ia tidak berminat untuk membuka rental untuk koleksi cakram videonya tersebut.
Kalau pun ada obsesinya itu tidak lebih dari sekadar ingin menjadi murid TK, satu-satunya tingkatan pendidikan yang tak sempat dicicipinya. 150106
Jangan sekali-kali larut dalam delusi fatamorgana.
Sekali hidup penuh arti.
Sekali bekerja bergetar dunia karena prestasi.”
SETIAP diri kita harus tampil sebagai pemikir dan pejuang, kreator dan pendobrak. Tidak ada kata statis dalam kehidupan, sebab statis berarti pengkhianatan yang memalukan. Demikian juga halnya tidak ada kata diam dalam membangun kebenaran, “Silence is worse all thruths that are kept silent become poisnous.” Kata-kata inilah barangkali yang dijadikan motivasi oleh seorang Andre Theriqa dalam menumpahkan kreativitasnya.
Tulisan Andre Theriqa lebih mencerminkan sebuah ‘gumam’ atau lebih bersifat reflektif, sebuah lontaran nurani yang datangnya sangat impulsif. Hatinya gelisah bila melihat kemungkaran. Selalu haus ingin menebar marhamah kasih sayang. Jiwanya meronta untuk tampil dalam prestasi yang utuh. Dia keras dalam prinsip, tetapi bijaksana dan lembut dalam penyampaian.
Setelah membaca tulisannya, kita akan mendapatkan butir-butir hikmah yang mendalam serta akan mampu menghayati, memahami dan menemukan jawabannya sesuai dengan yang diharapkan oleh sang penulis, mencapai TitikTuju.
H. DIDI ADIWIJAYA, Tokoh Masyarakat Banten
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TITIKTUJU, bukanlah ‘titik tujuh’. Bukan pula titik yang bertujuan. Apalagi titik yang berjumlah tujuh dan bertujuan. Bukan. TitikTuju adalah suatu proses. Proses menuju ‘akhir’ yang tidak bisa ditentukan kapan akan berakhir, oleh siapapun yang bisa berakhir. Itulah yang hendak penulis buku ini sampaikan kepada pembacanya, yang sudi meluangkan waktu untuk mengembara dalam perenungan, sebuah kontemplasi yang bermakna, bernas, dan memiliki sisi humanisme yang kuat. Walaupun sudah pernah dipublikasikan secara berkala di Media Tangerang, namun penerbitan menjadi satu buku ini masih memiliki daya tarik untuk dibaca, ditelaah, dimaknai dan dinikmati bukan sekadar untuk meluangkan waktu belaka.
Melalui TitikTuju, pembaca seakan diajak untuk menjelajahi perenungan seorang anak manusia, Andre Theriqa, dengan tetap menginjak bumi, dengan hati nurani, dengan cinta, dengan kasih sayang dan dengan tetap memanusiakan “manusia”. Tulisan dalam TitikTuju, adalah kumpulan tulisan yang dibuat seketika –ketika sang penulis merasakan getaran khusus, terinspirasi untuk menuangkan dalam tulisan beberapa waktu silam. Kesadaran untuk berbagi pengalaman dari sang penulis inilah, hingga merasa perlu untuk mengumpulkan kembali tulisan-tulisan yang berserakan, mengedit dan membukukannya, untuk pembaca yang budiman. Buku yang ada di tangan pembaca ini, adalah cetakan kedua, setelah cetakan pertamanya habis dibagi-bagikan kepada handai taulan. Ternyata, tuntutan untuk mencetak yang kedua, tidak mampu ditolak oleh penulis, yang memang tidak pernah bisa menolak permintaan orang. Apalagi permintaan untuk berbagi sebuah pengalaman, perenungan untuk nilai-nilai kemanusiaan.
Beberapa tulisan dalam TitikTuju, sengaja didedikasikan untuk beberapa tokoh, --yang dikenal dan mengenal—Andre Theriqa, sang penulis. Penulis tampak terkesan dengan peristiwa-peristiwa yang dialami bersama sang tokoh, walau sederhana dan singkat saat peristiwa itu terjadi, tapi bagi Andre Theriqa peristiwa itu memiliki sisi-sisi humanisme yang dalam dari sang tokoh. Hal ini tampak dalam tulisan bertajuk “Adeng”, “EMC dari Bunda”, “DRH” dan sebagainya. Hingga pembaca, akan larut bersama dengan bayangan tokoh yang juga dikenal oleh pembaca di Tangerang. Sebuah ‘kota’ yang tengah ditarik oleh modernisasi untuk memisahkan sisi “kemanusiaan” dari manusia penghuninya.
Memang ada beberapa tulisan dalam TitikTuju, ketika diedit kembali beberapa waktu kemudian (enam angka di belakang tulisan), sudah kehilangan ‘momentum’-nya, jika dibandingkan dengan suasana batin ketika tulisan itu dibuat, sesaat setelah peristiwa itu dialami. Terasa ‘kering’, ketika penulis mengeditnya lagi untuk dinikmati sekarang, saat peristiwa itu sendiri sudah lampau. Hal ini bisa dirasakan dalam tulisan yang berjudul “BBBM”, “Jalasveva Jayamahe” dan sebagainya. Namun, itu tidak mengurangi kenikmatan menjelajah dunia nilai-nilai kemanusiaan yang ditawarkan oleh penulisnya dalam TitikTuju.
Terakhir, jika pembaca jeli menelusuri TitikTuju hingga akhir, tentu akan mafhum, dengan situasi batin penulisnya. Bahkan pembaca dapat ikut merasakan ‘sakit’ imsomnia yang tidak dirasakan oleh penulis, bisa tahu hobi penulis yang suka mbaca buku Asmaraman S Kho Ping Hoo semasa remaja hingga hafal nama tokoh-tokoh dunia kang-ouw, seorang Andre Theriqa, yang rela begadang semalaman hanya untuk menonton bola, dan sebagainya. Penulis juga tampaknya sengaja menunjukkan kecintaannya pada lagu-lagu Iwan Fals, musisi yang dikaguminya, hingga bisa ditanyakan, ada berapa lagu Iwan Fals dalam TitikTuju ?
Akhirnya selamat membaca TitikTuju sambil mendendangkan lagu IwanFals. (250206)
IMRON HAMAMI, adalah penggiat sosial yang menjadi motor Pattiro,
sebuah NGO yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan di Tangerang.
================================================================
ANDRE THERIQA adalah seorang lelaki yang memilih berambut gondrong saat berada di lingkungan yang kelimis, dan memangkas pendek rambutnya saat orang-orang di sekitarnya mulai membiarkan rambut mereka panjang.
Biasa di panggil Bang Batman, tidak menjadikannya merasa seperti super-hero. Ia bahkan cenderung lebih kerap merasa super-heran melihat keadaan negeri ini, di mana begitu banyak yang memuja Robin Hood, yang jelas maling tapi dianggap sebagai pahlawan. Begitu banyak orang gontok-gontokan berebut kekuasaan, tapi begitu jadi justru tidak berbuat apa-apa.
Meski pernah menjadi Ketua Fraksi PDI P (P-nya: Pergaulan) dan Ketua Komisi C di DPR Daerah Kabupaten Tangerang, ia tetap saja merasa risih jika melihat banyak tangan yang meminta jatah komisi, terhadap apa saja yang bisa dijadikan proyek.
Ia merasa lebih nyaman menjadi KepalaSuku di SemburatJingga meski ia adalah Ketua I KONI Kabupaten Tangerang, Ketua Umum Yayasan Kesenian Tangerang, Pemimpin Umum / Pemimpin Perusahaan Harian Umum MediaTangerang, Direktur Utama La Venna Sentra Desain, Ketua Dewan Penyantun MataHati, Direktur AdipatiUtama, Direktur Sekolah Catur Ismet Iskandar, Ketua Presidium Front Indonesia Bersatu, Penasehat Benteng Masyarakat Banten, pembina ini, penasehat itu dan entah apa lagi.
Menulis adalah kegemarannya di samping membaca dan membuat sketsa, namun koleksi tulisan, buku dan sketsanya masih jauh di bawah jumlah koleksi sinematografinya. Meski secara faktual ia bisa disebut pengangguran, ia tidak berminat untuk membuka rental untuk koleksi cakram videonya tersebut.
Kalau pun ada obsesinya itu tidak lebih dari sekadar ingin menjadi murid TK, satu-satunya tingkatan pendidikan yang tak sempat dicicipinya. 150106
| TitikTuju | Feb 17, 2008 |
Hemat - Hormat - Hebat
“ Di tengah belantara, harimau terkapar kelaparan Daging kijang disantap serigala-serigala Seorang hamba Terkadang tidur berselimut sutra ... morePrevious blog entries: | ||
| Feb 17 | - | EMC dari Bunda |
| Feb 17 | - | DRH |
| Feb 17 | - | Suap - Sunat - Susu |
| TujuanBaik | Feb 12, 2008 |
mnatser wrote on Jan 22, '09 |
beritapolitik wrote on Feb 21, '08 mantap bang, jadi nostalgia lagi... tapi tetap ditunggu tulisan terbaru en aktualnya ya |
